Mahasiswa juga Aktif di Kegiatan International

The 3rd Asia Pasific Rainforest Summit (APRS)

Yogyakarta, 23-25 April 2018

 

Dengan tema “Protecting forests and people, supporting economic growth”, dialog internasional ini bertempat di Yogyakarta, Indonesia. Dengan peserta sekitar 1200-an orang dari negara-negara Asia – Pasifik. Sub-tema yang dibahas berfokus pada konservasi, dan investasi untuk alam.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Center of International Forestry Research (CIFOR), yang kebetulan tuan rumah kali ini adalah Pemerintah Indonesia (Kementrian LHK RI), dan didukung juga oleh pemerintah Australia.

Acara ini resmi dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, ibu Siti Nurbaya Bakar dan Josh Frydenberg, Menteri Energi dan Lingkungan Australia. Dalam sambutannya mereka menyinggung tentang progres konservasi yang terjadi di masing-masing negara.

ministers-and-gong

(Pembukaan acara oleh Menteri LHK RI)

Setelah resmi dibuka, acara dilanjutkan dengan Statements And High Level Panel. Pada High Level Panel ini terdapat dua pembahasan. Pembahasan yang pertama adalah Forest in Nationally Determined Contribution (NDCs) yang membahas tentang kontribusi negara-negara Asia – Pasifik terhadap perjanjian Paris mengenai perubahan iklim dan emisi karbon. Para panelis pada acara ini menjelaskan bahwa negara-negara di Asia-Pasifik mempunyai pengaruh yang besar dalam perubahan iklim global, sehingga negara-negara ini harus sudah merencanakan mitigasi kerusakan hutan agar hutan tidak rusak yang menyebabkan naiknya temperatur di Bumi.

cifor-robert-nasi

(Pembicara pada High Level Panel)

 

cifor-pavilion

(Melihat-lihat booth yang disediakan)

 

Pembahasan yang kedua lebih berfokus pada REDD+ (Reducing Emissions krom Deforestations and Forest Degradations). REDD+ menjadi pembicaraan yang sangat banyak dibicarakan karena ini berkenaan dengan perubahan iklim. Untuk mencapai tujuannya PBB juga bekerjasama dengan Green Climate Fund untuk membiayai promosi REDD+ dan implementasinya. Indonesia dan Papua Nugini berada di baris terdepan untuk implementasi REDD+, di Indonesia provinsi yang sukses dalam implementasi REDD+ adalah Kalimantan timur.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Welcome Dinner yang menampilkan kesenian-kesenian khas Indonesia untuk menghibur para peserta APRS sekaligus mengenalkan sebagian dari budaya Indonesia.

ooo

(Sebelum Welcome dinner dimulai)

Kegiatan hari kedua diawali langsung dengan empat sesi paralel dengan beberapa subtema, yang salah satunya adalah Restoration and Sustainable Management of Peatlands (Policy) yang membahas mengenai peraturan perundang-undangan yang ada terutama di Indonesia mengenai mitigasi kerusakan hutan gambut. Penanganan kebakaran hutan yang terjadi di Riau dan Kalimantan oleh pemerintah dibahas pula di sini.

Setelah Coffee break, paralel session dilanjutkan dengan salah satu materi selanjutnya yaitu Mangroves and Blue Carbon. Mangrove ternyata memiliki peluang yang besar dalam memerangkap karbon. Sehingga dirasa perlu untuk mencegah hutan-hutan mangrove agar tidak dirusak. Karena ketika menebang pohon mangrove sama saja dengan melepaskan emisi karbon ke udara.

Setelah semua sesi paralel selesai, acara ditutup kembali oleh Menteri LHK RI, ibu Siti Nurbaya Bakar dan wakil gubernur Yogyakarta.

Be the first to comment

Leave a Reply